Kulihat
bangsaku perlahan telah mati nuraninya, karena lapar
saling menyikut dan menindas...siapa cepat dan kuat
dialah pemenangnya...
Aku tertegun dan terpana semua ingin diraih, tak
pernah ada kata puas....seakan yang hidup bergabung
dengan yang mati demi sebuah ambisi.
Aku menyaksikan wajah-wajah yang tak kenal rasa malu,
yang menutupi matanya dengan debu-debu emas yang
memantulkan gemerlap cahaya teplok- airmata derita .
Kulihat pula derai tawa - tak berdosa sembunyikan
tangis bayi dari bilik kardus bawah kolong jembatan;
suara tangisan yang mengharap susu manis dari kedua
tetek kering ibunya, tarikan nafas kegetiran yang
menanti matangnya bebatuan didalam kuali ; serta
Jeritan nafas kemiskinan yang membuat seorang ibu tega
meletakkan anaknya dalam kardus- tepi sungai.
Tak ada bedanya aku, kamu dan mereka...karena
nuranilah kita berbeda- karena kejujuranlah kita jadi
mulia. sadarkah engkau bahwa orang mulia sekalipun-tak
jarang dari mereka adalah keturunan darah penjahat !.
Aku muak dengan kapitalis karena ia merupakan raksasa
tak berkaki serta berotak anak ayam, jelmaan lintah
yang tak pernah kenyang. Aku; kamu; dan mereka semua;
bayi-bayi ini, serta para pewaris bangsa...mereka
adalah para pewaris yang terpasung dan terkekang,
karena kemiskinan telah merantai tangan-tangan dan
tubuh mereka dalam belenggu kebodohan.
Aku bukanlah seorang provokator, atau anarkis bukan
pula komunis, aku mengajarkan kepada mereka tentang
Tuhan, dan ketika mereka marah meradang , aku redam
mereka dengan akal dan nurani, Aku seorang motivator ,
sekaligus orang yang terpasung, roda-roda kehidupan
kudapati berlawanan arah denganku, ia melindas dengan
angkuh setiap benih yang kutanam dan hendak bertunas.
Dan aku melihat disana, dibalik tumpukan sampah ada
budak sedang tertidur , aku tak ingin membangunkan dia
kalau-kalau ia sedang memimpikan “kebebasan.”
Bila ia telah terbangun akan aku jelaskan tentang arti
kebebasan kepadanya.
Tapi aku juga mencintai para budak itu, seperti
cintaku pada kebebasan, sebab mereka mengecup dengan
mata tertutup taring binatang buas dalam hening
ketidaktahuan, tanpa tahu senyum maut yang menunggu,
dan tak pernah menyadari, sedang menggali kuburan
dengan tangan mereka sendiri.
kehidupan berbangsa laksana sebuah kursi singgasana,
bila rusak atau patah sebagian maka pincanglah sebuah
bangsa.
Dan Matilah sebuah bangsa bila hukum dapat dibeli
dengan uang, serta para pemikirnya membiarkan
kebohongan sedangkan ia mengetahuinya -kemudian karena
sesuatu hal ia hanya diam terpaku , lalu menyerah
dalam kubangan belenggu yang bernama kekuasaan.
Hartono Beny Hidayat In Elaboration with KG