|
Bab
2 |
|
www.duniasastra.com Menurut
shahibul hikayat, Tersebutlah seorang raja dari negeri timur yang berkuasa
dan termasyur bernama Nalendra , kekuasaannya terbentang laksana permadani
yang menghampar dari ujung bumi yang satu, keujung bumi yang lainnya. Ia
begitu disegani rakyat dan para musuhnya, kata-katanya menjadi sabda,
perintahnya adalah titah yang tak seorangpun berani menentang. Ditangan
kebesarannya Kerajaan Ansaria mencapai puncak kejayaan, wilayah
kekuasaannya melebar sampai Semenanjung Malaka, Kamboja dan kepulauan
pacific. Raja-raja yang telah ditaklukkannya diwajibkan mengirimkan
berbagai upeti sebagai tanda bakti. Raja
Nalendra mempunyai seorang putri bernama Tiara, sebuah kerlip bintang yang
paling bersinar pada masanya , kecantikan dan budi pekertinya tersebar dan
tersiar hingga ke segala penjuru kerajaan arah mata angin.
Tak
pernah hatinya diliputi kecemasan sedikitpun,
seolah pintu-pintu langit tempat
dimana ia bernaung, selalu mencukupi berbagai kebutuhannya- dengan memberi
tetes air keberkahan , bagi
beragam jenis warna bunga, yang
hidup dan merekah dalam taman hatinya. Wajahnya
selalu berseri dan tak pernah terbersit dari pancaran wajahnya suatu
bentuk kedukaan ataupun kemuraman hati. Ia selalu dalam kegembiraan,
tak pernah ia menanyai hari esok ataupun yang kan terjadi
setelahnya, seolah berbagai kebaikan serta rahmat dunia berada dalam
genggamannya Kelokan
dua binar matanya , bersinar laksana mata kijang. Seakan mampu
menghipnotis orang yang paling arif sekalipun -hingga menawan hatinya
dalam jeruji keputusasaan, serta
memabukkan dan menenggelamkannya dalam cawan-cawan anggur, yang berisi air
harapan akan cinta dan anugerah. Seandainya
saja mata pena dipaksa untuk menuliskan keindahannya, tentu hal tersebut
akan sia-sia , disaat jiwa hendak menulis
perihal keindahan sejatinya , selalu saja mata-mata pena tersebut menjadi
patah , dan disaat buah-buah kebijaksanaan hendak dipetik, guna mengisi
pena dengan getahnya, selalu saja kertas-kertas tersebut terlebih dulu
terbakar , seakan tak kuasa menahan beban amanah yang meski dipikulnya. Walaupun
berbagai kesenangan hidup telah dikecapnya, ternyata Sang Putri menyimpan
suatu kegundahan hati, dalam tiap mimpi-mimpi malamnya ia sering berjumpa
dengan sosok pemuda yang begitu mengganggu pikirannya. Dan ia bahkan
mengigau menyebut-nyebut nama kekasih khayalnya itu disetiap waktu
-disetiap saat. Kelakuan
ganjil tersebut terkadang membuat hati Raja menjadi gundah. Bagaimana
mungkin seorang ayah akan tega membiarkan permata kesayangannya tertimpa
suatu penyakit aneh..Karena hal itu Sang Raja menjaganya siang malam,
memayungi dirinya dengan perhatian dan kasih sayangnya yang tulus.. Didalam
pengasuhan mawar tersebut, Raja Nalendra benar-benar mengistimewakan Tiara
sebagai harta yang paling ia cintai, kasih sayangnya sekan tercurah hanya
untuknya seorang serta menjaga layaknya Sphinx pada piramid. Raja
Nalendera telah lama
mendambakan mempunyai anak kembali, seorang anak lelaki yang kelak akan
mengangkat tongkat kebesaran dan mewariskan kejayaannya dengan semerbak
keharuman mawar, namun keinginannya tak pernah terwujud karena
permaisurinya tak pernah lagi mengandung. Pada
suatu hari Raja Nalendra mengadakan suatu acara yang ditempatkan
dibalirung istana , berbagai kalangan masyarakat berbaur menjadi satu,
bersorak penuh kegembiraan dalam sebuah keceriaan malam, mereka diundang
secara khusus untuk merayakan hari kelahiran rajanya yang telah memasuki
usia 75 tahun, didalam keria-an acara tersebut berbagai lomba dan atraksi
telah digelar, berbagai pundi-pundi kebaikan dibuka, malam itu menjadi
malam yang penuh keberkahan tidak saja bagi kalangan amir tapi juga fakir. Berbagai
kebaikan di malam itu, seakan menjadi air yang menghidupi serta
merahmati segala karunia yang telah dicurahkan Sang Khalik pada sang
raja., atas pemberian kesehatan dan umur yang panjang kepadanya. Didalam
pesta itu digelar berbagai atraksi, tari-tarian , dan juga lomba bersyair,
dikarenakan ikut dalam perlombaan, Satria berada diruangan utama.
Dimana ruangan itu dikelilingi meja-meja perjamuan, laksana sebuah taman
firdaus, beragam hidangan lezat, hiasan-hiasan dan bunga-bunga terbaik
yang ada diseluruh negeri tersaji disana . Berbagai
kenikmatan dunia terpancar dari tangan emasnya, sebuah tempat dimana
terdapat Raja dan kerabat serta para bangsawan bercengkrama bernaung
dibawah langit kejayaan, seakan hendak memperlihatkan kebesaran serta
kemuliannya masing-masing.. Setelah
memberikan kata sambutan, Raja Nalendra secara resmi membuka acara
tersebut. Digelarlah berbagai atraksi kesenian tradisional yang dilakukan
para seniman istana. Ketika sang putri raja sedang menari dengan pangeran
dari kerajaan lain, secara tak sengaja kaki sang putri menyentuh meja yang
diduduki seorang pemuda, sehingga menjatuhkan gelas kepangkuannya, yang
belakangan kita ketahui bernama Satria. Dalam
kejadian serba cepat seperti itu, si pemuda dengan khilaf secara tak
sengaja mengeluarkan desis bernada hardikan; apalah daya desis telah
keluar dan tak mungkin dapat ditarik kembali, tak pantas bagi seorang
rakyat biasa mengeluarkan desis sekecil apapun juga,
terlebih lagi kepada seorang yang begitu dihormati, maka si pemuda
buru-buru meminta maaf atas segala kekhilafannya, alih-alih sang pemuda
akan marah, ternyata ia terpana kepada kecantikan gadis itu. Sambil
tersenyum ramah pada Satria, Sang Putri menghaturkan permohonan maaf
secara tulus padanya. Tertegun oleh kerendahan hati dan keramahan Sang
Putri, Satria bersyair dalam hati : “Tak
jadi masalah Tuan Putri menjatuhkan air kepangkuanku, Padahal
lomba belum saja digelar, Tak
mengapa bila harus menjadi
seorang pecundang, Jika
senyum yang diberikannya padaku, telah
menjadikanku sebagai seorang pemenang!” Pada
saat itu juga, keindahan atap istana beserta
indah kerlip lampu-lampu kristal, telah menandakan sebuah takdir
-bagi lahirnya seorang penyair, yang
kelak akan mewariskan bait-bait abadi bagi generasi sesudahnya . Banyak
wanita yang memberi ilham padanya untuk menulis kasidah, bagai kumbang
yang mengelilingi bunga-bunga, tetapi Sang penyair hanya tertarik pada
salah seorang diantara mereka, dialah Tiara anak dari Baginda Raja. Saat
wajah rindu akan damai, seolah kedamaian itu harus ditebus oleh
peperangan, wajah yang terluka akan dibasuh serta disembuhkan -oleh kain
dan airmata kesedihan. Begitu
juga disaat sang pemuda datang dengan membawa hati yang tandus , tiba-tiba
saja hadir seorang yang
memiliki kecantikan bidadari, basahi dahaga kerongkongan jiwanya dengan
membawa sejumput senyum menawan, yang kelak akan menyegarkan segala resah
hatinya. Ketakjuban
itu terus berkembang hingga menjadi sebuah taman jiwa yang penuh terisi
oleh bunga-bunga cinta. Maka dari itu, keluarlah syair-syair indah dari
bibirnya seakan sudah menjadi detak jatung penyair kita. Ia
takkan pernah berhenti bersyair kecuali jika sang kekasih menghendaki atau
jantungnya sudah tidak berdetak untuk selamanya. Duhai
Pesona para dewi, disaat
aku melihat engkau menari, Gerak
gemulai tubuhmu membuat jantungku seolah berhenti berdetak, Andai
saat itu aku yang menari denganmu, Pasti
ku kan binasa, melihat
pencaran mata yang begitu indah itu, Duhai
Dewi Cintaku, Saat
kau melemparkan sebuah senyuman padaku,
hatiku yang beku kini mencair Disaat
kita saling menatap, maka
sabda jiwa kita tak mampu menyembunyikan rasa dihati.
Kebisuan
kita adalah cahaya keindahan yang memancar dari dalam diri, lebih
mulia dari suara-suara yang ditutur alam, Lebih
indah bunyi-bunyian yang
terucap dari para malaikat, Duhai
dara jelita, keindahan
diatas para Putri-putri Raja, Apakah
jiwamu dan jiwaku saling bertemu dihari pertemuan itu ?! Setelah
pesta usai, keterpesonaan Satria kepada sang putri membuat dirinya lupa
menanyai nama seorang gadis yang telah memikat hatinya itu. Beberapa
hari kemudian sipemuda kembali menuju keistana, kebetulan diistana sedang
ada pengangkatan prajurit baru, maka kesempatan itu tidak disia-siakan
olehnya, saat berada di alun-alun istana sipemuda berjumpa dengan beberapa
dayang-dayang istana , sambil menyelesaikan urusannya,
ia menyelidiki dan mencari tahu siapa nama gadis yang berada dalam
pesta kemarin itu yang kerling matanya begitu mempesona, senyumannya indah
tak terperi, atau langgam bicaranya yang menawan telah membuat hatinya
terbakar oleh bara api bernama cinta . Ternyata
usaha tersebut tidaklah sia-sia, salah satu dayang istana mengabarkan
keberadaan si pemuda kepada sang putri, “ kekaguman atas diri Tuan Putri
telah melahirkan banyak bait-bait syair cantik dan kebanyakan syair-syair
itu dinisbatkan kepada Anda!” , begitu tuturnya. Mata
merupakan jendelanya hati, segala sesuatu yang mengitari pikiran sang
pecinta mendorongnya untuk menemukan cintanya, walaupun dengannya ia harus
mereguk racun, niscaya racun itu tak berdaya oleh madu cinta yang mengalir
dalam darahnya . Tak
bisa pungkiri bahwa Sang Putri juga merasakan getaran yang sama, takkala
ia mendapatkan cerita perihal kekasihnya itu. dawai-dawai kecapi asmara
serasa mengalun merdu diseputar dinding hatinya . Ketika
cinta hadir dan mengetuk pintu hati, maka hati tak akan lagi bisa
membedakan antara kaya atau miskin, siburuk rupa atau sibaik rupa. Dan
sang putripun tak dapat berpaling untuk tidak mencintainya. Tiara
sang putri raja, melihat sesuatu yang indah memancar dari diri si pemuda.
Begitu juga sebaliknya dengan sipemuda, ia memandang Sang Putri sebagai
sebongkah mutiara nan sempurna, yang memancarkan cahaya kecantikan dari
dalam diri. Gayung
bersambut , tidak bertepuk sebelah tangan. Setiap kali dua jiwa itu bersua
, kadar cinta di dada masing-masing semakin bertambah besar. Dalam cinta
dan kerinduan, selalu bermula dari pandangan mata, kemudian senyum, lalu
sapa, bicara lantas berjanji untuk bertemu, terjadi perjumpaan atau bahkan
perpisahan. Setelah
perjumpaan sekejap itu, hubungan keduanya berlangsung melalui surat
ataupun saling kirim mengirim utusan. Syahdan
Sang Putri Raja sedang dilanda demam asmara , pikirannya takkan pergi jauh
dari sang terkasih, walau banyak sekali duri yang menghalang ataupun
cemoohan yang terlontar, ia tetap saja tak peduli ; dan semakin menyakini
-bahwa getaran yang bersemayam dalam hatinya merupakan sebuah getaran
cinta yang telah lama terpatri dalam hati, takkan pernah ia merasa
bersalah dan takkan penah mengenal kata salah. Seseorang
yang bijak sekalipun tentu bisa mengendalikan akal sehatnya , namun apalah
daya jika sibijak diterpa penyakit cinta, tak ada obat mujarab yang dapat
dengan mudahnya menyembuhkan penyakit ini selain kehadiran si pemberi
penyakit “Ternyata
dialah !…ternyata dialah yang sering mampir disetiap mimpi-mimpi
malamku!”
gumam Tiara, Sang Putri Raja. Begitulah
bila cinta telah dibutakan oleh hasrat dan keinginan , ia akan lupa akan
kebenaran yang mendasarinya, apalah daya tembok yang kokoh lagi tinggi
ataupun kesiagaan para pengawalnya -semua kan jadi percuma, bila yang
meski dijaga adalah sebuah hati. Dalam
suatu kesegaran pagi yang
cerah, dengan berhias lengkung warna-warni pelangi, bunga-bunga merekahkan
putik mahkota indahnya. Dipagi
itu pintu-pintu langit hendak menganugrahkan hikmah, serta memperlihatkan
tabir lain yang sempat terhalang bagi pengelihatannya, maka terbukalah
secara perlahan berbagai selubung yang menutupi matahatinya, sehingga
Tiara Sang Putri Raja merasakan sesuatu yang aneh -telah terjadi pada
dirinya. Ia melihat dan menyaksikan dengan mata hatinya , bahwa kupu-kupu
dan bunga saling berbicara , seolah mereka hendak menyampaikan dan
menisbatkan bait-bait syair nan indah ini untuknya
: Aku
adalah kupu-kupu , aku
dan bunga adalah sepasang kekasih. Angin
kehidupan mempertemukan dan memisahkan kami. Aku
terbang dan aku datang dari atas singasana cintamu, untuk
menggabungkan sengat kasihku dengan putik indahmu, serta
keindahan warnanya yang menyatu dengan keindahan sayap-sayap cintaku. Menjelang
segarnya pagi aku menghampiri kekasihku, dan
ia mendekapku dalam kelopak indahnya. Disenja
hari kutorehkan dan kubacakan syair-syair kerinduanku , lalu
ia tersenyum ,
dan melambaikan kelopak
jiwanya padaku.... Kupu-kupu
bersayap yang oleh cinta tidak diberi kekuatan, tidak akan bisa terbang
dari balik dedaunan untuk melihat keindahan dan keagungan cinta, Dimana
jiwaku dan jiwa kekasihku menyatu dalam setiap hembusan dan tarikan nafas
keabadian... Ketika
angin menyandungkan bait-bait cinta , Ruh
semesta yang mendengarnya akan tertunduk dalam bulir airmata bahagia... Disaat
angin bergolak, dan hati terluka...Kupu-kupu terbang susuri taman-taman
hati, dilihatnya
bunga-bunga merekahkan warni kemandulan jiwa...putik indahnya
takkan pernah mendengar...ketika alam menyandungkan bait-bait kehidupan... Kekasihku,..... Aku
ingin engkau mengenalku sebagai keindahan kupu-kupu yang pernah tertatih
dalam kegelapan...Aku ingin engkau mengingatku sebagai makhluk yang pernah
terkurung sepi
dalam selubung kegetiran .... Duhai,
keindahan jiwa yang
menghias taman hatiku, Tak
ada hari-hari yang lebih indah daripada hari-hari yang dihiasi oleh
keindahan cinta... Tak
ada badai yang lebih menakutkan selain badai asmara..tetaplah dalam
genggaman erat -
kepakan syair keabadianku, dan jadilah
pengikut setia atas Singgasana keajaiban cintaku... Dan
kupu-kupu yang dicintai Sang Putri Raja bukanlah kupu-kupu biasa, walaupun
ia berasal dari kalangan jelata , namun dia adalah sosok pemuda yang cakap
menunggang kuda, hebat dalam memainkan pedang dan ahli membuat syair,
konon apabila ia menyandungkan bait-bait syair, kehalusan dan kedalaman
makna yang terkandung didalamnya amatlah menggetarkan jiwa, bahkan bagi
jiwa sekeras batu sekalipun akan luluh lantak dibuatnya. Dilain
kesempatan, masih disebuah taman jiwa yang sama Sang Putri terlihat
menghampiri kupu-kupu tersebut , serta meraih sayapnya kemudian ia
berbicara padanya ”Wahai
kupu cintaku !’, katanya
“Dari sayap keindahan dunia manakah engkau berasal ?”. “Dapatkah kau
padamkan nyala api yang menyala dalam hatiku kini ?”, “Haruskah aku
memohon padamu untuk mengatakan padaku siapa namamu dan dari mana engkau
berasal ?.” …. “Lihatlah
luka yang telah tergores dan teranga di hati ini, dapatkah kau biarkan
keperihan ini terus berlangsung, sedang kau biarkan aku meluruh dalam
dekapan sayap kebesaranmu ?”…Duhai, betapa malangnya jiwaku, dan ku
yakin tak seorangpun mau tertimpa cinta seperti ini, kau telah membawa
pergi hatiku , tanpa
meninggalkan jejak sedikitpun perihal dirimu!”. “Duhai
kepakan sayap yang terus bergema dikehening ruang hatiku, maukah kau
ceritakan padaku ihwal syair yang kau gubah untukku?!”…”Tahukah kau
wahai kekasih hati !, bahwasanya bayang indahmu telah menggangu tidurku,
merampas ketenangan malamku dengan menaburi duri cinta pada pembaringanku
?!” “Ketahuilah
bahwa kebebasanku kini, telah tertawan oleh keindahan
bait-bait cintamu, maka sandingkanlah kedua jiwa itu; bila kau tak
sudi menyatukannya sesegera mungkin, maka kembalikanlah jiwaku !…dan
jangan biarkan terus jiwaku tersiksa dalam penantian - serta menunggu
dalam keraguan ditiap detik ujung harapku ini !” Tak
beberapa lama kemudian kupu-kupu yang menghias serta bersemayam
ditaman jiwa itu menjawab seruannya, lalu kupu-kupu yang ada
digenggamannya itu berkata : “Saat
Sang Putri Raja berdiri ditepian senja, langit
mengukir lembaran kisahku padanya, maka
ia tersenyum, ia menangis
, dan ia tertegun”. “Duhai
kelembutan jemari yang telah menggetarkan kebesaran sayap-sayap cintaku
!” “Janganlah kau berburuk sangka, ijinkanlah aku barang sejenak
mengagumi keindahan parasmu, maka ijinkan aku untuk memaknai keindahan
dirimu dalam kepakan sayap-sayap kebijaksanaanku !” “Dan
janganlah mengira luka cinta yang kuterima akibat pesonamu, lebih ringan
dari yang kau terima dariku.”…”Jiwakupun terpanah oleh panah cinta
yang sama !” Pertemuan-pertemuan
dalam alam impian, ternyata belum juga bisa menjawab dan menyembuhkan
penyakit akan cinta atau memadamkan gelora bara api cinta yang berkobar
didalam hati. Sang
putri raja kembali kekamarnya dengan membawa penyakit bathin didalam
tubuh, badannya semakin kurus beriring dengan berlalunya hari . Tak
seorangpun tabib yantg mampu mengobati. Setiap hari ia mengigau
menyebut-nyebut nama kekasihnya atau berbicara dengan bayang-bayang sang
terkasih.. Perpisahan
adalah ladang subur untuk menumbuhkan dan menyalakan api cinta. Tidaklah
menjadi kendala bila kedua pecinta terpisahkan oleh jarak, dinding-dinding
kokoh yang sengaja dibangun-pun akan sia-sia belaka, bila yang ingin
dibatasi adalah sebuah jiwa. Baginya,
cinta sejati adalah singgasana peristirahatan akhir bagi kemurnian hati,
dihadapannya-lah cinta menghamba , didalam erat
genggamannya-lah kekuatan cinta memasrahkan diri. Berkali-kali
mereka berusaha untuk merajut benang-benang cinta kasih, tetapi apa lacur
, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak,
benih asmara dalam kedua jiwa itu akhirnya tercium juga oleh
keluarga sang putri. Kini
kekasih yang dibangga-banggakannya telah dipingit dalam kamar kerajaan, ia
tak dapat lagi keluar tanpa pengawalan teman atau orang yang dapat
dipercaya.. Kalau terpaksa harus keluar, itupun bila ada keperluan yang
amat mendesak. Sang
putri raja telah dipersiapkan untuk menjadi pewaris kerajaan, dalam
pingitannya itu ia hanya diam seribu bahasa sembari merasakan pahitnya
kesedihan. Saat
cinta menyapa jiwa pemuda dan putri raja , saat bunga-bunga cinta telah
terpaut dilubuk hati keduanya, kini
Tiara sang putri raja tidak dapat ditemuinya kembali sekalipun itu hanya
sebuah pertemuan melalui surat-menyurat. Maka biarlah kumpulan lembaran
jiwa itu; impian, imajinasi dan kenangan yang menyertainya , menjadi muara
ilham bagi lahirnya bait-bait syair yang dinisbatkan padanya Beriring
dengan berjalannya waktu, hal
tersebut tak berlangsung lama, secara sembunyi-sembunyi, pertemuan mereka
menjadi semakin rutin, meski hanya memandang Tiara dari bawah balkon
istana, sebuah pertemuan suci dilakukan dengan tetap menjaga diri, tak
peduli langit sedang menghitam atau guntur sedang membahana, mereka tetap
gigih, walau mara bahaya mengancam keduanya , seakan hal itu tak
menyiutkan nyali dan menyurutkan niat baik kedua pecinta yang sedang
dilanda badai asmara untuk saling bertemu. Dalam
kenekatan seperti itu, Sang Raja pernah menasehati
putrinya: “Wahai
anak pelita bagi kebesaranku , engkaulah satu-satunya yang paling kucinta,
permata yang paling berkilau dari seluruh negeri ..sampai kapankah engkau
akan tersesat dalam kebeliaan masa mudamu ?… Mengapa engkau masih
berhubungan dengan pemuda yang tak jelas keberadaan dan
asal-usulnya?…Ketahuilah bahwasanya engkau adalah seorang putri Raja,
banyak pangeran tampan yang mengantri laksana kumbang mendekati bunga
untuk dapat mendapatkanmu, namun mengapa engkau terpedaya dan terbelenggu
dalam jerat-jerat tipuan yang telah diciptakan olehnya?…Seseorang
yang memperlihatkan manisnya cinta padamu, laksana kembang gula, padahal
ia telah membuatnya dengan jemari hitam lagi berkuku tajam! ” “Duhai
Ayahandaku tercita” tuturnya, “ Janganlah engkau berkata seperti itu,
tidakkah kau ketahui ,bahwa tak
ada seorang gadispun yang ingin
tertimpa kemalangan seperti ini, ……luka pada hatiku ini; bukan atas
kehendakku- ia ada, namun karena kebesaran cinta itulah ia ada!” Ketidaksukaan
Sang Raja pada Satria berbuntut panjang, sebenarnya Satria lulus dalam
pengangkatan prajurit baru, namun karena ketidaksenangannya itu, ia
dinyatakan tidak lulus secara sepihak, musnahlah harapannya sebagai abdi
negara yang ia citakan sejak kecil. Namun demikian Satria tak pernah
berkecil hati ataupun berputus asa, ia tetap berusaha tersenyum walau
hatinya merintih. Cinta
tak pernah berubah sepanjang masa . Cinta adalah getaran yang menembus
kalbu. Cinta adalah panggilan jiwa yang memaksa jasad untuk mengikuti. Dan
cinta adalah bara api yang berkobar didalam hati setiap kali melihat sang
terkasih, atau mendengar namanya disebut. Perputaran
hari telah menengaskan bahwa setiap kali kedua jenis anak manusia
dipisahkan, setiapkali rasa rindu untuk bertemu meenggelegak didalam jiwa,
setiapkali itu pula akal menciptakan bentuk bentuk hubungan yang tak
pernah terbayangkan. Seorang
pecinta yang tergila-gila tidak akan merasa cukup bila hanya menyandungkan
bait syair pada sang terkasih, ia akan berusaha mendekati rumah kekasihnya
itu berharap sebuah keajaiban mempertemukannya dengan si jantung hati. Bukanlah
seorang Satria, bila ia tak
bersyair untuk menjawab segala keresahan hatinya, dan bukanlah seorang
Tiara, bila ia tak pandai
bersyair dan juga menterjemahkan syair-syair yang dinisbatkan padanya… Duhai
kekasih, Disaat
seorang pemuda dilanda cinta, Hal gila apapun pasti dilakukannya demi Sang
tercinta, Tembok
yang tinggi sekalipun kan dipanjatnya, laut nan luaspun kan diarunginya, Onak-duri
itu dapat dengan mudah diatasinya, lain halnya bila bunga yang ia
cintai dipagari - dinding-dinding kemuliaan dan kehormatan, Ia
akan mati dibalik tembok itu dengan menggenggam sebuah keyakinan kuat
dalam hatinya, Dalam
kematiannya- ia menyakini bahwa; kelopak bunga yang ia lempar dari
balik tembok itu, sekalipun
bunga-bunga itu tak ada yang memungutnya , suatu
saat layunya akan menjadi benih harapan, serta obat kerinduan bagi sang
terkasih, Bunga-bunga
harapan yang kelak menjadi pelipurnya dikala sedih, menjadi
teman sejatinya dikala hampa. *** |