|
Bab 6 Cinta merupakan wadah kehidupan untuk saling mengisi |
|
www.duniasastra.com Dalam
penziarahan cinta, ombak lautan yang membawanya pergi pada sang kekasih
adalah deburan sejati yang mengalir dari samudera ketulusan hati. Langkah
kaki yang diayunkannya, bagai degup jantung yang menghidupi dan memelihara
kekasihnya dari nestapa dunia. Sedang semerbak untaian kata yang
ditebarkan keudara bagai senandung abadi,
yang dinyanyikan bidadari surga. Dapatkah
kemurnian cinta menahan hasrat untuk membahagiakan kekasihnya?, mungkinkah
matahari akan membiarkan bulan untuk bersinar selamanya tanpa saling
melengkapi dan mengisi kekosongan hari?! . Telah
bermil-mil jauhnya Satria meninggalkan kerajaan Ansaria menuju kerajaan
Tradasia. Selama dalam pengembaraan tersebut, ia menuliskan kegelisahan
hatinya pada daun lontar. Ia susun kepedihannya itu hingga menjadi
gulungan permadani syair nan indah. “Duhai
Tiara ! walau dalam
pengembaraan spiritual ini kau tak disisiku, namun bayang indahmu selalu
bersemayam dalam relung sanubariku”. “Dari
tiap helai dedaunan yang kutingalkan, namamu selalu tertinggal dan
mengakar pada paras bumi. Setiap kulantunkan syair kerinduanku untukmu,
maka burung-burung yang mendengarnya seakan malu untuk ikut
bersenandung”
“Engkau dan hanya engkaulah bayangan semu yang akrab diantara kehampaanku, dari mimpi-mimpi malamku, sering kulihat wujud hidupmu dan menyaksikan
.
Bila
kekasih merindu pada bintang yang bersinar terang dalam hati, dapatkah
kepalsuan cinta menyembunyikan cahaya indahnya dari hati?, dapatkah bujuk
rayu harta dunia membahagiakan bathinnya selain menambah kepedihan jiwanya
?. Mungkinkah
hingar bingar pesta pora menghilangkan ingatannya pada sang terkasih
selain menambah kesunyian dan keterasingan hatinya?. Betapa
anehnya bila dunia bila menganggap kemurnian Cinta, adalah jalan sesat
yang membawa pelakunya jatuh
kedalam lubang yang curam dan gelap. Tidakkah mereka sadari bahwa cahaya
surgalah yang membawa dan menuntun mereka, dalam rengkuhan kasih Ilahi. Dunia
boleh memiliki tangan yang kekar untuk memisahkan keduanya, dunia boleh
melingkarkan untaian bukit emas untuk membelenggu tangan dan kakinya,
namun dapatkah dunia melawan kehendak tangan Tuhan, yang telah menyatukan
keduanya- dari keterpisahan ?!. Bagi
jiwa Satria, hanya cintalah yang ingin ia kecap dan rasakan. Ia tak malu
walau dirinya terlihat kumal dan berantakan karena Cahaya Cintalah yang
ingin ia gapai, dan hanya anggur Cintalah yang ingin ia reguk. Ia
telah mabuk dalam pengembaraannya mencari sang terkasih. Dalam perjalannya
itu tak sedikit manusia yang mentertawainya, menganggapnya gila serta
melempari tubuh sang pecinta dengan batu dan kotoran. Mereka
tertawa kegirangan ketika melihat sang pecinta menjerit kesakitan, mereka
tersenyum puas manakala darah mengucur dari tubuhnya yang terbungkus
balutan tulang- belulang. Mereka
menutup hidung dan membuang pandangannya ketika sang pecinta lewat, namun
pada saat yang sama menangisi suara-suara surga yang mengalun merdu dari
bibirnya, serta mendekap bayang-bayang sang pencinta di kesunyian
malamnya..Ketika kesunyian itu lebih dalam lagi, mereka mengejar sang
pecinta hingga keatas bukit lalu merentangkan tangan kasihnya sebagai
seorang sahabat. Oh
betapa anehnya dunia dan betapa malangnya nasib pecinta ini, ketika
ketersendirian membaluti tangkai harinya dengan kegersangan, maka
keluarlah senandung kelembutan hati nan indah yang mengalun dari
kerongkongannya yang dahaga. “Duhai
Tiara, aku telah berusaha meraih harta dunia untuk menggapai cintamu,
namun kini telah kusadari bahwa Cinta itu ternyata lebih mahal harganya
dari sekedar harta dunia!”. “Aku telah bahagia menjadi aku dengan
segala aku, aku takkan memaksakan kehendak untuk menjadi seseorang yang
bukan diriku!”. “Inilah
aku Tiara, ketika manusia mentupi hidungnya ketika berjumpa denganku,
sedang dirimu maukah kau sejenak duduk disampingku sambil menebarkan
keharuman rambutmu untukku?. “Mampukah
keshalehan dirimu mendoakan suatu kebaikan, bagi diriku yang malang ini?,
dapatkah bibir merahmu mengalunkan syair-syairku sebagai penguat
langkah,penyembuh kalbu?!”… ”Duhai
kekasih, tetaplah bersemayam dalam hatiku, hiasilah hariku ini dengan
senyum indahmu yang menawan. Sentuhlahlah luka yang menganga ini dengan
lentik jemarimu yang halus, lalu basuhlah darahnya dari kain ketulusan,
yang telah kita rajut bersama -dari benang jiwa.” “Medekatlah
cintaku, janganlah merasa malu bila berada disampingku.Bertandanglah
barang sejenak dihutan-hutan kesunyianku. Reguklah kesegaran mata air
yang mengalir dari sungai-sungainya. Sapalah kehangatan surya yang
bersinar teduh dari balik rimbun pepohonannya.” “Di
hutan rimba ini begitu indah kasihku, angin berhembus, daun bergoyang,
burung berkicau riang. Dikesunyian ini tak pernah aku mendengar suara
ratap tangis, dalam hutan yang rindang ini, tak pernah aku melihat
manusia tergeletak karena lapar.Betapa inginnya aku menceritakan ihwal
keindahan ini kepadamu, dan seandainya saja kita dapat melewatinya
bersama.” “Wahai
Tiara, aku tahu saat ini engkau hidup bagai merpati yang terpenjara dalam
kurungan emas sanak keluarga yang mengasihimu , namun dapatkah kau sejenak
melihat keterasinganku ini?!, dapatkah dua bola indah matamu membuka dan
melihat kehidupanku yang nestapa?, Mungkinkah senyum indahmu membasuh
kepedihan hatiku. Dapatkah ketulusan cinta mu membangkitkan jiwaku yang
telah lama mati?. Tahukah kau kekasih, dengan langkah gontai;
terlunta-lunta aku menyusuri padang kesunyian tanpa seulas senyum
sedikitpun menyapa diriku. Mereka; orang-orang beradab ini menjauhiku,
menganggapku hilang ingatan , menghardik dan menista diriku, seolah aku
ini sampah yang menjijiikan; hantu yang menakutkan. ” “Duhai
kekasih hati, Cinta telah mengikat jiwaku dan menyimpulkannya dengan
benang jiwamu. Dalam rajut ketulusan ini, aku memohon padamu, agar
senantiasa menjaga kain kesucian cinta dari tangan-tangan kotor yang
hendak menjamahnya. Jangan kau biarkan gunting-gunting nafsu dan kancing
kemewahan dunia menggadaikan kain kebersahajaan kita”. “Duhai
belahan jiwa, biarlah dirimu kukenang sebagai sebuah telaga yang selalu
menghilangkan dahaga jiwaku. Biarlah keteduhan binar matamu memayungi
hari-hariku yang penuh nestapa. Dan biarkan pula hembusan angin membawa
keharuman rambutmu sebagai nafas penopang raga. Biarlah semua terbingkai
dalam hatiku ini, sehingga dari balik linangan airmata, kudapat menjalani
hari-hariku dengan indah dan penuh warna
kebahagiaan.” ‘Wahai
pohon cemara yang bergoyang, engkau adalah sebuah menara yang menjadi
saksi bagaimana cinta telah mematahkan segala harapanku, dan menyiksaku
dengan hujaman ayunan kapak agar dengannya aku tunduk dibawah kaki aturan
adat dan kemuliaan dunia. Walaupun demikian ku senantiasa tersenyum
padanya, dan kuyakin dengan senyumku ini, putik-putik hatinya dapat
merasakan kebahagiaan walau dirinya berada jauh dari sisiku. Dan aku akan
selalu mengenang keberadaan cintanya, seolah ia sendiri berdiri
dihadapanku, menyapa dan tersenyum padaku walaupun sekiranya ia jauh.” “Wahai
Penguasa kalbu, dari dekapan erat jemari kasih sayang keluarganya.,
biarkanlah api cinta selamanya berpijar serta memancarkan cahya kasih
dalam lilitan sumbu lentera hatinya. Payungilah sang pecinta dari panasnya
dunia, siramilah bunga-bunga cinta yang telah tertanam dalam jiwanya agar
selamanya bersemi, mengharumi hari serta menghiasi kehidupan lelaki lemah
ini dengan keindahannya.Teguhkanlah hatinya,Ya Rabb supaya sang
pecinta dapat menjaga kebun-kebun cintanya yang telah tersemai.” “Ya
Allah, Tuhanku Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, anugerahkanlah
Tiara padaku serta dekatkanlah hati dan jiwanya untukku. Engkaulah Ya
Rabb, Yang Berkuasa penuh atas segala catatan takdir
makhluk-makhlukMu dari awal hingga akhir kehidupan. Semaikanlah
putik-putik kebahagiaan kedalam taman hatinya, kuatkan dan tentramkanlah
hati sang pecinta dari kegelisahan dimalam tak berbatas dan bertepi ini.
Anugerahkanlah kesejukan dan ketenangan bathin dimalam ini
kepadanya, yaitu dia yang terus merentangkan jubah kasihnya; serta
mengingat cintanya saat orang lain terlelap tidur. Dan dia yang bagaikan
bunga matahari, menundukkan tangkainya -sujud mencium bumi, dan
berdoa,bermunajat pada-Mu
untuk kebaikan serta kebahagiaan hidupku.” “Tuhan,
dalam letihku ini…aku menghaturkan doa padaMu, disaat tubuhku melemah
dan pendanganku menjadi kabur, aku memohon dengan kekuatanMu,
ringankanlah langkah kaki sang Mutiara hati, untuk menemui diriku yang
lemah dan tak berdaya ini. Wahai Penggenggam hidup, apalagi yang mesti
kuperbuat, bebaskanlah aku dari lilitan derita.
Sandingkanlah jiwaku dengannya dengan kekuatanMu. Lalu hidupkanlah
jiwaku yang mati dengan cahya kasihMu, hindari serta selamatkanlah aku
dari perangkap kematian, yang sengaja dicipta dan dipasang untuk melukai
diriku. Kini selagi ia berusaha mendekati pijar jiwaku, maka pulihkanlah
tenaga dan kekuatanku agar ku dapat pula melangkah menemui pujaan
hatiku.”
2001 - 2004 |