Bab 8 Cinta Ayahbunda Sepanjang Jalan

Kasih sayang orang tua adalah kasih tulus sepanjang jalan, Orang tua mana yang ingin menjerumuskan anaknya?, orang tua mana yang tak ingin anaknya kelak hidup bahagia serba berkecukupan?, dengan menjaga Tiara, Ratu Ayu Artika telah mengungkapkan cinta murninya pada sang anak. Dengan menasehatinya, ia telah membukakan mata anaknya tentang jalan mana yang layak dan tak layak untuk ditempuh .

Guna mengalihkan pikiran anaknya dari pemuda yang dikasihinya. Sang Ratu mendatangkan berbagai cerdik pandai; berbagai mantra cinta dibacakan, pesta pora-para bangsawan pun digelar. hadir dalam pesta berbagai Pangeran tampan dari penjuru negeri. Banyak diantara mereka dengan jubah kebangsawanannya mencoba untuk merayu sang puteri atau sengaja didorong-dorong keluarganya untuk mendekati sang puteri.

 “Wahai permataku tercintai!” bisik Ratu dengan lembut, “Adakah diantara pangeran gagah dan terhornat itu yang dapat memikat hatimu?!”. “Pilihlah satu diantara mereka, kujamin dengannya engkau akan mendapat kehormatan dan status sosial yang minimal sepadan dengan kita.”

“lihatlah para pangeran itu, mereka bukan hanya gagah namun juga berpendidikan tinggi. Berasal dari nasab keturunan yang terhormat, yang kelak mewarisi anak-anak yang cerdas dan berwatak cendekia”

“Kini lupakanlah pemuda aneh itu, bukalah matamu….dan lihatlah batu-batu rubi yang berkilauan dihadapanmu”. “Mereka ada untuk memperebutkan cintamu, berilah mereka kesempatan. Bukalah pintu hatimu sejenak untuk mereka, ijinkan salah satunya untuk menemani ketersendirianmu. Bukankah cinta dapat hadir; salah satunya melalui jalan kebersamaan?. Dan dari kebersamaan itu; bukankah kita dapat saling mengenal masing-masing diri ?!”.

“Untuk apa engkau mengharap seseorang yang tak jelas keberadaannya, aku tahu dia pemuda yang baik hati, namun darimanakah ia berasal ?, apa tujuannya berkelana?!; malah bisa jadi saat ini ia sedang bersenang-senang dengan wanita lain, sedang engkau disini bermuram durja- berkawan derita !.”

Sambil mengecup dahi dan memeluk anaknya sang ratu bertutur kembali,

“Mari, kemari dan lekaslah anakku….sudahi sampai disini segala kesedihan yang memayungi dirimu. Dan jangan kau habiskan masa mudamu dengan sebuah penantian yang sia-sia. Ingatlah masa muda hanya sekali dan takkan terulang lagi!. Maka jangan kau sia-siakan perihal segala anugerah kecantikan yang kau miliki itu, dengan menaruhnya disudut-sudut ruang kehampaan, serta tanpa seorangpun yang mengetahui corak garis rupamu yang menawan selain laba-laba penenun”

Terharu atas segala perhatian dan kebaikan Ibunda yang tercurah padanya. Membuat hati nan lembut ini menjadi luluh. “Baiklah ibunda…aku kira saatnya bagiku untuk mengikuti nasehatmu sebagai tanda baktiku padamu”. “Biarlah aku berkawan terlebih dahulu; kepada salah satu diantara mereka, sebab bukan saatnya bagi hati untuk membicarakan cinta. Mungkin dilain waktu ku dapat membuka hatiku dengan cinta lainnya”

Betapa leganya hati sang Ratu,setelah sekian lama  baru kali ini ia melihat puterinya tersenyum.

Disaat yang sama, dilain dunia yang serba gemerlap…..Takkala bulan memamerkan kecantikannya. Satria keluar dari lembah tempat persembunyiannya, guna mencari makanan untuk disantapnya. Ia ikuti bisikan angin, dan juga kedipan bintang - yang menuntun kemana arah langkahnya meski menuju.

Ketika Satria sedang menyusuri sebuah bebukitan, terlihat sebuah tenda dengan sebuah api unggun didepannya.Tiba-tiba sebuah sosok keluar dari tenda itu lalu berkata padanya, “Wahai pengembara maukah engkau singgah dikemahku barang sejenak, sambil mengusir rasa jenuhku ?!”…”Kemarilah sebentar, temanilah aku menikmati hidanganku ini…cicipilah walau sedikit !”

Terkesan oleh keramahtamahan sipengembara, membuat Satria tak enak hati untuk menampik ajakannya. Maka mendekatlah Satria menuju tenda itu, kemudian ia duduk bersila didepan perapian sambil bercakap-cakap dengan sipengembara.

“Kalian membawa banyak sekali rombongan dan kereta kuda; sedang  apakah gerangan tuan berada disini?.”tutur Satria..

“Perkenalkan nama saya Rangkuti, Saya adalah ketua rombongan sandiwara keliling dari kerajaan Tradasia.. Tujuan kami kenegeri ini untuk sekedar mencari peruntungan!”

“Silahkan cicipi hidangan ini, tak usah sungkan-sungkan.” Sambil menuangkan secangkir teh ,”Maaf, Sepertinya saya mengenali diri tuan. Saya banyak mendengar tentang seseorang yang menyusuri hutan sambil membawa gulungan lontar. Apakah tuan merupakan seorang penyair yang saya maksud itu?!.  Apabila dugaan saya benar. Maukah tuan membacakannya untuk saya, sedikit dari syair-syair yang tuan miliki ?!”.

“Maaf tuan aku bukanlah seorang penyair, aku hanya menulis dan mengungkapkan rasa yang kurasakan. Jikalau hal demikian kau anggap keindahan lantas dimanakah kesedihanku berada?’,

Entahlah Tuan ! , aku sekedar menceritakan apa yang ingin ia keluarkan. Seperti halnya airmata, keluar begitu saja walau ia berusaha sekuat mungkin untuk menahannya.

Ia hanya ingin bercerita pada kalian tentang pengalamannya akan kesedihan, harapan dan keputusasaanya dan juga……aku tanya kepadanya, perihal makna yang terkandung dari titik-titik ini, namun ia bersikeras tak mau menjawabnya!.

Yang aku aku tahu ia bagaikan laba-laba penenun, yang menyulam imajinasinya dengan realitas kehidupan. Saat ia telah kehabisan serat benangnya yang terakhir, maka ia menenun dengan ukiran airmatanya, ketika airmatanyapun telah mengering, maka ia berusaha merajutnya kembali dengan lembaran pembuluh darah tubuhnya. Namun ada dimana benang-benang itu tak pernah habis walau ia telah memakainya berjuta-juta km jauhnya, ketika aku tanya padanya perihal benang ajaib itu ,  ia menjawab sederhana : Pikiran & kehendak bebas.

Terkesan dengan ucapan Satria dan juga penasaran dengan tulisan-tulisan yang dibawanya, membuat Rankuti berhasrat untuk memiliki gulungan-gulungan lontar untuk lakon dalam drama pertunjukkannya,’Jualah padaku!” rayu Rangkuti,namun Satria menolak memberikan beberapa tulisan yang diminta dengan alasan tulisan ini begitu berarti baginya dan sampai kapanpun ia takkan mungkin menjualnya.

 Kecewa akibat penolakan, terbersit dalam hatinya untuk mendapatkan  buah pikiran Satria guna mendapat  keuntungan yang sesaat, tanpa perjuangan serta kerja keras. “Toh , siapa yang bakalan percaya ini karya dari seorang yang lupa ingatan” pikirnya.

Tanpa pikir panjang , takkala Satria lengah…….didorongnya tubuh lemah ini dari atas tebing yang curam. Tubuh Satria terhempas keras kedasar jurang sehingga membuatnya tak sadarkan diri, dalam keadaan tak berdaya tersebut ; dan dikarenakan kebesaran Ilahi jualah, yang membuatnya selamat dari ancaman binatang buas.

Binatang-binatang itu seakan terpaku melihat pancaran hati yang memancar dari wajah Satria, sehingga naluri tajamnya seakan tak kuasa untuk menyakiti ataupun mencabik tubuh sang pecinta. Betapa anehnya kehidupan fana ini, binatang yang tak memiliki akalpun masih mempunyai nurani, tetapi manusia yang diciptakan dengan sempurna ternyata berprilaku lebih binatang daripada binatang.

****

Wahai dunia, kini pecinta hidup bagai dedaunan yang terlepas dari tangkainya, terombang-ambing ia terterpa hembusan angin. Ia rajut hari-harinya dengan sulaman kegetiran dan juga kesedihan hati. Sirna pula segala harapannya bagai biduk yang tertelan badai. Begitulah perumpamaan jiwa pecinta yang ditinggal kekasih pujaannya . Berpisah dengan Tiara membuat Satria kehilangan semangat, ia tak lagi mengenali siapa dirinya, bagaikan sebuah cermin retak- maka wajah yang terpantul darinya akan menjadi asing bagi mata yang melihatnya.

Ia sering terlihat berjalan tak tentu arah menembus semak belukar sambil menyebut-nyebut nama sang terkasih. Dari sengatan mentari yang terik, ia kucurkan keringatnya diatas tanah gersang hingga membentuk seuntai kata. Bila malam menjelang maka ia punguti bintang, lalu menyusunnya pada wajah rembulan. Seorang diri ia menitik dan menyandungkan  airmata kepedihan, telah terbakar kini hatinya oleh api cinta.

Laksana seekor burung yang terluka sayapnya,. kian hari jiwa pecinta yang malang ini menjadi semakin menderita. Tubuhnya kini bagai tangkai yang mengering, keharuman mawar telah memudar dari tubuhnya yang berbalut debu, terlunta-lunta ia seorang diri jauh dari sahabat dan keluarga yang mengasihinya. Dalam penderitaanya itu ia mengharap langit memberi kemurahan padanya, tuk dapat segera mengucurkan rintik hujan, yang kelak akan mencurahkan air keberkahan dan mengobati pohon jiwanya yang layu dengan kucuran rintik air kehidupan.

Dalam ketersendiriannya ia berteriak-teriak dan memanggil kekasihnya, bagaikan alunan mantra yang bergema untuk menutupi luka hatinya yang lirih, namun siapakah yang akan menjawab segala seruannya?. Hanya lembah bebatuan , hewan dan tumbuhan sajalah yang mungkin dapat memahami kepedihan hatinya.

Laksana saya elang, sekuat-kuatnya ia mengepak, tentu akan tiba saatnya untuk menekukkan keperkasaannya; takluk dibawah kaki naungan langit biru. Demikian halnya Satria kini badannya melemah, walau hati kecilnya masih ingin terus berkelana namun sayapnya tak mampu lagi merentang, ia jatuh terkulai tak sadarkan diri ditengah belantara kesunyian.

Duhai Tiara....

Selama mawar masih merekah dimusim semi ,

Selama mentari masih bersinar dari tiap sudut-sudut langit,

Disetiap denyut nadiku, 

dari setiap aliran serta hembusan nafasku ,

Engkaulah air kehidupan serta benih-benih harapku selamanya bersemi.


Duhai kerlip malam bertabur bintang,

Engkau adalah teman jiwa dikala sunyi,

Engkaulah pendengaran dan penglihatan mata hatiku.

Duhai tatap keindahan dikala kelam,

Bawalah cahaya itu dari kelopak matanya,

Payungilah jiwaku dari pancaran teduhnya,



Duhai pesona para dewi,

Dimalam ini aku termenung, jemari kerinduan telah membuatku slalu terjaga,

Masih setiakah kau menerangi dan menghias malam pekatku ?

bagaimana aku mengtahuinya?

Ataukah ini hanya ilusi ku semata?!

Sampai kapankah ku mesti bertahan?..


******

Telah lama satria meninggalkan negeri Ansaria.  Setelah sekian lama menjauh , kini terbersit kerinduan dihatinya untuk berjumpa dengan Tiara.. Berangkatlah ia menuju kerajaan Ansaria. Dalam perjalanannya itu, ia melintasi sebuah kota bernama Mevada. Saat memasuki sebuah kedai di kota itu, ia mendengar perbincangan para pengunjung dari kedai seputar percintaan antara Tiara sang Puteri Raja dan Pangeran Diwata dari propinsi Kasia. Dari perbincangan itu terbetik kabar bahwa, mereka berdua tak lama lagi akan segera melangsungkan pernikahan.

Betapa sedihnya hati Satria mendengar kabar angin itu. Apa yang harus dilakukannya sekarang?. Kalau memang benar Tiara telah menemukan cinta selain dirinya, kini siapakah yang dapat mencintainya dengan tulus selain dirinya?. Dalam kehampaannya itu, dalam keremangan malam nan sunyi  ia menulis :

Kuawali syair ini dengan menyebut nama Allah swt, Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Kasihnya menerangi dan mencukupi segala sesuatu bagi makhluk-makhluknya, mulai dari yang melata hingga berdiri tegap, yang hidup dalam lubang pekat hingga naungan benderang cahaya…….

Duhai cinta !, masihkah kau ingat syair kasih dariku yang berbunyi:

“Dalam penziarahan cinta, ombak lautan yang membawanya pergi pada sang kekasih adalah deburan sejati yang mengalir dari samudera ketulusan hati.

Langkah kaki yang diayunkannya, bagai degup jantung yang menghidupi dan memelihara kekasihnya dari nestapa dunia.

Sedang semerbak untaian kata yang ditebarkan keudara bagai senandung abadi,  yang dinyanyikan bidadari surga.

Dapatkah kemurnian cinta menahan hasrat untuk membahagiakan kekasihnya?, mungkinkah bulan akan membiarkan matahari untuk bersinar selamanya tanpa saling melengkapi dan mengisi kekosongan hari?! “.

Tahukah kau wahai belahan jiwa?…. Tanpamu disisi- membuat jiwaku laksana sebuah kapas yang diterbangkan keudara, terhempas dalam kehampaan…..dan terjatuh ketanah saat airmata kepedihan membasahinya”.

Tahukah kau kekasih, dari kebun bunga-bunga jiwamu aku mengenal kasih, darinya aku mengenal ketulusan; dan juga cinta. Maka injaklah tanah jiwaku dengan tapak kakimu, maka kelak darinya kan tumbuh bunga-bunga kehidupan.

Bakar dan cabutlah bunga kehidupanku dari akar jiwamu, maka sebagian jiwamupun akan ikut mati bersamanya. Marahlah padaku jika kau mau, lalu padamkanlah dengan percikan airmataku, bila kegilaanku ini kau anggap sebagai aib atau kesalahan; karena aku tak sanggup menanggung kemarahan darimu, sebab kau begitu indah.

Dalam ketersendirianku ini kemana lagi aku akan mengeluh dan mengaduh?….sedang engkau yang menjadi nafas penopang hidup dan matahariku, kini kepada siapakah kau arahkan cahyamu?!.

Engkau bagaikan matahari yang berkuasa menyinari hatiku dan membawa obor kedamaian dalam hangatnya api cintaku, namun mengapa kau menahannya dariku?. Pernahkan kau menyadari bahwasanya satu hari berpisah dalam Cinta sama dengan seribu tahun lamanya, dan seribu tahun bersama Kekasih terasa hanya dalam sehari.

Takkala jiwaku haus akan kelembutan sentuh kasihmu, kemanakah genggaman jarimu kini kau eratkan?!. Engkau bagaikan mahkota raja-raja yang tercipta untukku. Namun kepada siapakah kini ia menghias?!.

Mungkin saat ini engkau sedang tertawan dalam kasih sayang keluargamu, tapi mengapa bukan kegilaanku saja yang dibelenggu?!. Sebab aku kini telah sebatang kara, tak lagi memiliki keluarga serta sahabat yang dapat kucintai selain dirimu.

Kini aku telah tenggelam dalam samudera ketersendirianku, mungkinkah kau datang mengangkat  dan meraih tanganku dalam badai keterpurukanku ini?!.

Berilah aku setetes embun harapan dan secercah isyarat kasihmu agar pohon jiwaku kembali hidup !.

Dalam kehampaanku ini, ketahuilah bahwasanya tak ada yang dapat menghapuskan rasa cintaku darimu, sebab nyala api cintamu akan selamanya berpijar dalam hatiku !.

Selesai menuliskan kalimat-kalimat cinta. Satria merebahkan tubuhnya diatas sebuah batu. Kemudian ia bermimpi sedang berjumpa dengan Tiara. Dalam mimpinya itu ia berujar pada sang puteri :

“ Wahai Tiara kekasihku……Cinta laksana ukiran jiwa yang penuh warna serta teka-teki, maka jadikanlah cinta sebagai sahabat kesejatian diri dan jangan jadikan cinta sebagai rangkaian petualangan , carilah yang terbaik dari cinta itu, namun jangan mudah untuk memberi cinta kepada setiap jiwa yang menghampiri, tanpa mengukur kedalaman cinta itu sendiri -yang tercermin dari bahasa tubuh dan bahasa hati.”