Sitor Situmorang
'Kepala Suku' Sastrawan ‘45

www.duniasastra.com
Pria Batak kelahiran Harianboho, Samosir, Sumatera Utara 2 Oktober
1924 ini sudah menjadi seorang Pemimpin Redaksi harian Suara Nasional
terbitan Sibolga, pada saat usianya masih sangat belia 19 tahun, di
tahun 1943. Padahal, sebelumnya ia sama sekali belum pernah
bersentuhan dengan profesi jurnalistik.
Sastrawan Angkatan ’45, ini kemudian bergabung dengan Kantor Berita
Nasional Antara, di Pematang Siantar. Dan sejak tahun 1947, atas
permintaan resmi dari Menteri Penerangan Muhammad Natsir, Sitor
menjadi koresponden Waspada, sebuah harian lokal terbitan kota Medan,
Sumatera Utara. Ia ditugaskan menempati pos di Yogyakarta.
Jika di kemudian hari persepsi tentang diri Sitor Situmorang identik
sebagai sastrawan Angkatan ’45 yang kritis, bahkan menjadi susah
memilah-milah apakah ia seorang sastrawan, wartawan, atau politisi,
agaknya bermula dari kisah sukses besarnya sebagai wartawan saat
berlangsung Konferensi Federal di Bandung, tahun 1947.
Hadir bermodalkan tuksedo pinjaman dari
Rosihan Anwar, saat itu nama wartawan muda berusia 23 tahun, Sitor,
sangat begitu fenomenal bahkan menjadi buah bibir hingga ke tingkat
dunia. Ia berhasil melakukan wawancara dengan Sultan Hamid, tokoh
negara federal bentukan Negeri Belanda yang sekaligus menjadi ajudan
Ratu Belanda.
Sultan Hamid adalah orang yang diplot menjadi
tokoh federal, tentu dengan maksud untuk memecah-belah keutuhan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi terdiri berbagai negara
boneka dalam wadah negara federal.
Kisah suksesnya bukan sekedar karena berhasil menembus nara sumber
Sultan Hamid. Materi wawancara itu sendirilah yang memang lebih
menarik. Sebab, kepada Sultan Hamid Sitor berkesempatan menanyakan,
’bagaimana pendapatnya tentang negara Indonesia’, dan uniknya dia
jawab dengan, ’oh terang Republik itu ada, dan tidak bisa dianggap
tidak ada’.
Esok harinya isi wawancara itu menjadi
headline dan semua kantor berita asing mengutipnya. Peristiwa ini
terjadi justru sebelum konferensi resmi dimulai, sehingga sudah ada
gong awal yang memantapkan eksistensi NKRI.
Ultah 80
Menjelang usia genap 80 tahun Sitor mempersiapkan perayaan ulang
tahun dengan matang. Ia merayakannya di Taman Ismail Marzuki (TIM),
Jakarta, antara lain dengan memamerkan puluhan kumpulan puisi dan
berbagai dokumentasi tentang kontribusinya dalam peta perjalanan
sastra dan politik di Tanah Air.
Bahkan, beberapa hari sebelumnya, 27
September 2004 ia memperkenalkan karya-karya puisinya yang belum
pernah dikenal orang. Apakah itu barupa puisi karya terbaru, atau
puisi lama namun sama sekali belum pernah dikenal orang. Maklum,
siklus kepenyairan Sitor Situmorang, yang menikah untuk yang kedua
kalinya dengan seorang diplomat berkewarnegaraan Belanda Barbara
Brouwer, yang memberinya satu orang anak, Leonard, sudah berbilang
setengah abad lebih. Dari istri pertama almarhum Tiominar, dia
mempunyai enam orang anak, yakni Retni, Ratna, Gulon, Iman, Logo, dan
Rianti.
Semenjak tahun 1950-an karya-karya sastranya sudah mengalir ringan
begitu saja. Sitor pada tahun 1950-an itu pulang dari Eropa sebagai
wartawan, lalu memutuskan berhenti dan bergiat sebagai sastrawan.
Kumpulan puisi pertamanya terbit tahun 1953, diterbitkan oleh Poestaka
Rakjat pimpinan Sutan Takdir Alisjahbana (STA).
Dia begitu hafal setiap karya puisinya. Malah,
beberapa orang sahabat sesama sastrawan, seperti almarhum Arifin C.
Noor, W.S. Rendra, maupun sastrawan asal Madura Zawawi, menyapanya
dengan melafalkan petikan puisi karya Sitor sebagai sapaan salam. Dari
lafal petikan itu pula Sitor kenal siapa nama dan identitas orang yang
menyapanya.
Beragam karya sastra Sitor yang sudah diterbitkan, antara lain Surat
Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955),
Drama Jalan Mutiara (1954), cerpen Pertempuran dan Salju di Paris
(1956), dan terjemahan karya dari John Wyndham, E Du Perron RS
Maenocol, M Nijhoff. Karya sastra lain, yang sudah diterbitkan, antara
lain puisi Zaman Baru (1962), cerpen Pangeran (1963), dan esai Sastra
Revolusioner (1965).
Esai Sastra Revolusioner inilah yang mengakibatkan Sitor Situmorang
harus mendekam di penjara Gang Tengah Salemba (1967-1975), Jakarta
tanpa melalui proses peradilan. Ia dimasukkan begitu saja ke dalam
tahanan dengan tuduhan terlibat pemberontakan. Selain karena isi esai
Sastra Revolusioner sarat dengan kritik-kritik tajam, posisi mantan
anggota MPRS ini ketika itu sebagai Ketua Umum Lembaga Kebudayaan
Nasional (LKN) periode 1959-1965, sebuah lembaga kebudayaan di bawah
naungan PNI, membuat rezim merasa berkepentingan untuk “menghentikan”
kreativitas Sitor.
Karenanya ia dengan ringan menyebutkan,
“Mungkin karena saya anti-Soeharto saja,” sebagai alasan kenapa ia
harus mendekam di penjara Salemba selama delapan tahun berturut-turut.
Hingga keluar tahanan Sitor tak pernah tahu apa kesalahannya.
Kepada Sitor tak diizinkan masuk tahanan membawa pulpen atau kertas.
Namun, walau berada dalam penjara Sitor tetap berkarya. “Tidak ada
orang yang bisa melarang saya untuk menulis,” ucapnya tentang
keteguhan hatinya untuk tetap berkarya dalam kondisi dan situasi
tertekan seberat apapun, termasuk ketika terkungkung oleh
tembok-tembok beton penjara.
Ia berhasil merilis dua karya sastra, yang
berhasil ia gubah selama dalam tahanan, yakni Dinding Waktu (1976) dan
Peta Perjalanan (1977). Kedua karya itu diluncurkan masih dalam status
Sitor tidak bebas murni 100 persen sebab ketika kemudian |