Soetardji Calzoum Bachri www.duniasastra.com
Nama:
Soetardji Calzoum
Bachri
Lahir,
24 Juni 1941
Pria
kelahiran 24 Juni 1941 ini digelari 'presiden penyair Indonesia'. Dalam karyanya
berjudul Ayo (198) dia bertanya: Adakah yang lebih tobat dibanding airmata
adakah yang lebih mengucap dibanding airmata adakah yang lebih hakekat dibanding
airmata adakah yang lebih lembut adakah yang lebih dahsyat dibanding airmata. (Ayo,
Sutardji Calzoum Bachri, 1998)
Soetardji membacakan puisinya pada malam terakhir dalam rangkaian Festival
Nopember 1999, Rabu (17/11/1999). Euphoria reformasi, di tangan penyair,
sepertinya telah mencapai titik antiklimaks. Pembacaan puisi malamitu adalah
buktinya. Gelar baca puisi yang menampilkan 'presiden penyair Indonesia'
Soetardji Calzoum Bachri itu jauh dari teriakan euphoria reformasi, dan jauh
dari sajak-sajak sosial yang gusar.
Kalau belakangan ini hampir seluruh ekspresi seni nasional menyerukan perjuangan
dan tuntutan rakyat atas dominasi kekuasaan pemerintah, maka malam itu di gedung
Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), suara-suara para penyair -- juga
pada sajak-sajak Abdul Hadi WM, Leon Agusta dan Ahmadun YH yang malam itu tampil
bersama Soetardji -- lebih banyak mengendap dalam sajak-sajak yang kontemplatif.
Kalaulah Sutardji menyempatkan diri mengemukakan keprihatinannya atas perjuangan
para mahasiswa melalui sajak Ayo, itu masih dalam jumlah yang kecil dibanding
puisi-puisi lain yang juga dibacanya. Pun sajak-sajak hening yang dibawakan oleh
Leon, Ahmadun, dan Abdul Hadi. Bahkan, Sutardji membacakan puisi romantis yang
diterjemahkannya dari bahasa Spanyol tentang seorang perempuan lembut yang sarat
cinta.
Pembacaan puisi-puisi kontemplatif itu terasa menyejukkan dan lebih mengena
secara universal ketimbang sekadar sajak-sajak yang mereaksi peristiwa
sosial-politik yang tengah terjadi di masyarakat. Sutardji yang membawakan
beberapa karya terbarunya mengatakan sajak yang bermutu perlu proses pengendapan
dan penghayatan, tak sekadar instan mereaksi yang ada. ''Ada atau tak ada
peristiwa, sajak tetap bisa dibikin karena kita terus berpikir dan bertafakur,''
paparnya.
Namun, kalau berbicara soal gaya dan pembawaan bersajak, Sutardji tetaplah
Sutardji. Edan, namun bermakna dalam. ''Setiap orang harus membikin sidik
jarinya sendiri, karakternya sendiri. Biar tak tenggelam dan bisa memberi warna,''
kata pengklaim diri Presiden Penyair Indonesia ini.
Menggandeng dosen IKJ Tommy F Awuy sebagai pengiring musik, Sutardji membaca
sajak-sajaknya dengan ditingkahi denting piano. Tak ketinggalan pula suara
seraknya menyanyikan beberapa lagu evergreen Barat, antara lain My Way. Dan, ini
merupakan daya tarik tersendiri bagi 'penyair mantra' yang belakangan sering
diledek sebagai calon presiden Riau itu.
Gayanya yang jumpalitan di atas panggung, bahkan berpuisi sambil tiduran dan
tengkurap, seperti telah menempel menjadi trade mark Sutardji. ''Aku tak pernah
main-main sewaktu membikin sajak, aku serius. Tapi, ketika tampil aku berusaha
apa adanya, santai namun memiliki arti,'' katanya.
Apakah puisinya itu baik atau buruk, bagi Sutardji, ia berupaya dalam
penyajiannya tak berjarak dengan penonton. ''Kehadiran sajak itu harus akrab
dengan penonton, tak berjarak dengan kehidupan,'' tambahnya. Tapi, beberapa
penonton menilai penampilan Soetardji kali ini tidak setotal ketika 'bertarung
dalam satu panggung' dengan Rendra dan Taufiq Ismail tahun lalu. Soal ini,
dengan nada kelakar ia berkilah, ''soalnya honornya kecil, ya tampilnya setengah
maksimal saja.''
Penyair sufistik Abdul Hadi WM, yang membawakan sajak-sajak lama (1981-1992),
menenangkan suasana dengan tuturan kecintaan pada Allah SWT dan kekhidmatannya
pada masjid. Menampilkan delapan puisi dengan gaya kalem ia sempat juga
mengkritik keras kualitas kader bangsa. Simak saja dari sepenggal karyanya
berjudul Dalam Pasang yang dibacakannya. ''Kita adalah penduduk negeri yang
penuh pemimpin. Tapi tak seorang pun kita temukan dapat memimpin. Kita.......''
Kritik serupa juga hadir dalam sajak berjudul Kembali tak Ada Sahutan Disana
yang mengungkapkan bahwa suksesi yang tak berlandaskan pada kearifan dan
keadilan sama halnya lari dari kehancuran yang satu ke kehancuran lainnya. ''Bertikai
memperebutkan yang tak pernah pasti dan ada. Dari generasi ke generasi.
Menenggelamkan rumah sendiri. Ribut tak henti-henti....,'' ujar Abdul Hadi.
Berbagai interpretasi tak terhindarkan bermunculan dari karya kontemplatif. Saat
Abdul Hadi membacakan puisi Elegi, muncul perkiraan adanya korelasi dengan kian
nampaknya eksistensi para seniman bekas anggota ormas terlarang yang menjadi
musuh para pendukung Manifes Kebudayaan.
Musuh-musuhku, namun sahabat-sahabat setiaku juga.
Saban kali datang melukaiku dan kemudian menyembuhkan:
''Mari kita bangun jembatan,'' dan kami pun segera membangun jembatan dan runtuh
juga.
Mereka tak tahu dan aku pun sudah lupa ....
Dan seperti aku pula mereka adalah pemburu kekosongan dan kesia-siaan Mereka
ingin membunuhku, karena mengira aku ingin membunuh mereka Aku ingin membunuh
mereka karena mengira mereka ingin membunuhku Mari kita tolong mereka, mari kita
tolong diri kita
Leon Agusta yang membuka acara pembacaan puisi ini tampil diam dan gagah.
Membawakan beberapa puisi serial, ia mengajak penonton mengolah pikiran dan
kebijakan atas segala fenomena kehidupan. Ayah peragawati kondang Hukla ini,
tanpa banyak kata pengantar, menyajikan tuntas semua karyanya. (Republika 19 Nov
1999)