RA Kartini

 

www.duniasastra.com

Alasan kami memasukkan nama RA Kartini karena beliau merupakan pemikir dan pengarang yang menuangkan pemikiran dan refleksinya dalam surat-menyurat berbahasa Belanda yang indah.Tiada seorang penulis dan pemikir dimasanya yang hebat kecuali Kartini.

Jika saat ini bangsa Indonesia mendengar kata emansipasi, maka yang tidak terlupakan dari kata tersebut adalah Kartini. Seorang putri bangsa yang cerdas, keturunan dari keluarga ningrat, ayahnya bupati dari jepara.Salah satu peningalan dari beliau adalah kumpulan surat-suratnya yang beliau beri judul "Door duisternis tot Licht", yang terlanjur diartikan oleh Armin Pane "Habis gelap terbitlah terang". Memang lebih puitis.Namun demikian menurut cucu tiri Kartini sendiri arti sebenarnya yang lebih tepat adalah "Dari kegelapan menuju Cahaya".

Kartini adalah murid dari kyai haji Muhammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat Semarang. Saat kecil, Kartini yang cerdas pernah menanyakan arti dari kitab suci Al-Quran yang dibacanya, namaun beliau malah dimarahi pengajarnya.

Salah satu cita-citanya adalah berskolah di negeri Belanda namun ditentang oleh Mr. J.H. Abendanon, yang khawatir keburukan praktek penjajahan belanda pribumi diketahui oleh parlemen belanda sendiri.

Emansipasi Kartini

"Kami disini memohon diusulkan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserukan alam sendiri kedalam tangannya: menjadi ibu,pendidik manusia yang pertama-tama."

Surat Kartini , Kepada Prof. Anton dan Nyonya 4 oktoer 1902

Kartini mendobrak keningratan

"Sesungguhnya adat sopan santun kami orang jawa amatlah rumit.Adikku harus merangkak, bila hendak berlalu dihadapanku. Kalau adikku duduk dikursi,saat aku lalu, haruslah segera ia turun dan duduk ditanah, dengan menundukkan kepala, samapai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan ber engkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa kromo inggil (bahasa jawa tingkat tinggi).Tiap kalimat yang diucapkan haruslah selalu diakhiri dengan sembah.Berdiri bulu kuduk, bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumi putera yang ningrat.Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya harus perlahan-lahan, sehingga hanya orang yang didekat sajalah yang dapat mendengar.Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang , disebut kuda liar."

Surat Kartini kepada Stella 18, agustus 1899

"Peduli apa aku dengan segala tata acara itu, segala peraturan2na, semua iu  bikinan manusia dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket didunia keningratan jawa itu. Tapi sekarang mulai dengan aku ,antara kami (KArtini , Roekmini , dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi.Pasaan kami sendiri yag akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan."

Surat Kartini kepada Stella, 18 agustus 1899

 

"Bsgi saya hanya dua macam keningratan : keningratan pikiran (fikrah) dan keningratan budi (akhlak).Tak ada  yang lebih bodoh menurut persepsi saya daipada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya.Apakah berarti sudah beamal sholeh , orang yang bergelar Graaf atau Baron!.Tidak dapat dimengerti oleh pikiranku yang picik ini."

Surat Kartini kepada Stella 18 agustus 1899