|
http://www.duniasastra.com
Hati yang
tercerahkan oleh cahaya Cinta, lebih berharga daripada semua kilau permata
di dunia.
Tak ada penyembuh yang lebih baik daripada kehadiran orang yang dikasihi
bila seorang pecinta sakit . Dan Tak seorang pun dapat mempercayai suatu
perlindungan, betapa pun besarnya, kecuali perlindungan yang diberikan
oleh Cinta.
Semua ‘kekuatan ajaib” -ada dan tercipta karena dorongan Cinta.
Betapa seorang induk ayam akan bertarung mati-matian dengan musang demi
mempertahankan kelangsungan hidup anaknya.
Betapa ruang waktupun takluk dalam genggaman cinta, pernahkah kau rasakan
ketika kekasih berada disisi?. Satu hari berpisah dalam Cinta sama dengan
seribu tahun, dan seribu tahun bersama Kekasih terasa hanya sehari.
Perjalanan ribuan kaki terasa hanya beberapa kaki, dan beberapa kaki
terasa ribuan kaki tanpa kehadiran-Nya..
Dalam kesadaran Cinta. bentuk Cinta yang paling hakiki adalah Cinta
kepada-Nya sebagai bentuk total penyerahan diri terhadap Sang Penggenggam
Hidup, sedang cinta pada insan dan alam semesta menciptakan keadaan
surgawi- apabila berlandaskan Cinta ; menjadi kabut duniawi bila menjelma
hasrat nafsu.
Aku tak pernah tahu seberapa kerasnya hati ini, apakah sekeras
baja?….bila ya,maka aku akan mengharap api cinta melelehkannya hingga ku
dapat membentuk dan menjadikannya kembali dingin. Bila hatiku selembut
lilin yang mudah meleleh ketika tersentuh api maka kuyakin dengan sumbu
yang ideal,maka kudapat mempertahankan nyalanya hingga habis
terbakar……Ataukah hatiku seperti kertas? Menyala dengan cepat lalu
menjadi asap sekejap.
Dalam keheningan ini, kuingin kau tahu bahwa Cinta-Nya pada kita laksana
bara api yang saling terkait , yang terangnya adalah cahaya atas cahaya.
Bila api cinta ini menyala, maka Sang Terkasih akan menerangi jalan dan
kegelapanpun lenyap.
Mungkinkah kita dapat mempertahankan api cinta kita, untuk tetap menyatu
dalam cahaya keterpisahan-Nya?….
Kala jiwa terbangun dalam keterjagaan malam, Pernahkah jiwa bertanya :
“Mengapa tiba-tiba hati ini selembut kapas?!”,….”Sihir macam
apakah yang melemahkan kemudaan dari bahu dan mematahkannya hingga hancur
berkeping-keping?!”…
Tolaklah kenyataan ini, maka retaklah cermin itu, bukankah merupakan
kesia-siaan belaka, seumpama wajah rupawan berkaca pada cermin yang retak
?. Dan Bagiku jiwa yg resah…. dapatkah jiwa memandang diri sebelum
memandang orang lain?!…..dan dapatkah kau bangkit dari kematianmu
sebelum kau menuju pada kematian yang sesungguhnya?!”…...
Rahasia setiap pencapaian dalam setiap agama dan mistisme adalah Cinta.
Konon tanpa Cinta sang pencari akan menghabiskan waktu bertahun-tahun
dalam jalur ini, dan akan selalu gagal untuk memusatkan pikiran mereka
pada satu kesadaran.
Laksana “mata ketiga”, pesan telepati yg disampaikan kepada kekasih
menghadirkan bunga-bunga Imajinasi, pikiran, mimpi dan visi seorang
pecinta, semuanya mengungkapkan segala sesuatu tentang Dia yang
dicintainya.
Tetapi cinta memaksa pecinta, menahan visi tentang kekasihnya di depan
pandangan-Nya yang tertutup oleh pandangannya. Cintanya sendiri adalah
Cermin pemantul bagi bayang yg bercerita tentang diri, ,orang lain serta
lingkungan yang dikasihinya.
Dan aku menyadari tiada daya yang lebih besar daripada Cinta. Semua
kekuatan muncul ketika cinta bangkit di dalam hati.
Andai mereka tahu bahwa rahasia semua itu berada di dalam Cinta!
Hartono Beny Hidayat
Dalam tangisku ini, Ya Allah, anugerahilah jiwa hambamu ini dengan
hangatnya CintaMu,
dan mencintai mereka yang mencintaiMu,
dan mencintai apapun yang mendekatkan aku padaMu,
dan jadikan cintaMu lebih berharga bagiku daripada air segar bagi dahaga. |