|
www.duniasastra.com
Dalam perjalanan tanpa akhir, Ketika segala resah merasuki dan
menyelimuti diriku,
Aku hanya bisa menahan nafas , jiwaku merintih dan terkapar,
menggigil dalam kebisuan malam
Aku hanya terdiam, aku mengharap kehadirannya merupakan suatu
perjalanan “terakhir” yang singgah distasiun hatiku.
Aku melihat ‘kereta tua’ itu telah letih, seolah semua rel ia
telah dilintasi, seolah segala rute perjalanannya berlalu tanpa
irama,
Melintas dan hanya melintas, tanpa ada tiupan masinis, ataupun
derai tawa bocah yang mengiringi perjalanannya.
Entah kenapa ‘kereta’ itu kini hanya ingin dilihat,
ia mengharap suatu saat kelak- masuk museum,
Walaupun sekiranya terkurung dalam ruang yang terbatas namun ia
memiliki teman, bersama kereta lainnya yang lebih dulu ada-
mereka saling berbagi tempat dan cerita.
Ketika aku sedang berada distasiun, aku bercerita dengan kereta
lainnya,
“Aku lelah mengangkut segala tentang ‘ada’ ataupun ‘tak ada’
dari seorang manusia”.
“Aku mengharap didepanku merupakan sebuah stasiun terakhir
tempat dimana ku dapat beristirahat dan singgah dalam waktu
lama”.
Kemudian kereta lain berujar; “kenapa engkau berpikir begitu ?!,
tidakkah perjalananmu telah menghidupi banyak orang, engkau
memberi tempat dan nafkah bagi segala jenis manusia”
‘mulai dari golongan pekerja, copet, pengemis dan pedagang’….
”Mau engkau kemanakan mereka bila kau tak ada?’…’apakah ada
kuburan yang siap menampung mereka lebih dini- lalu menafikan
dari takdir yang telah digariskan ?!’…’ dan ketahuilah kehidupan
adalah berjalan diatas rel yang bernama takdir’,…’ tekadlah yang
bisa melawan kuatnya derasnya hujan dan hembusan angin ketika
engkau melintas, atau mungkin kau tak dapat menghitung berapa
kali engkau kelilipan debu, demi mencapai asa dan cita”.
Tubuh serta jiwamu terbuat dari baja!…tabraklah angin sebanyak
yang kau mau…
Salamilah kesetiaan matahari yang telah menyinari perjalananmu…
Tersenyumlah laksana pelangi sekalipun harus merangkak dalam
selubung kabut
Jadikan akal dan nurani penuntun perjalananmu, Bersuaralah
dengan lantang, sekalipun jeritan halilintar membahana membelah
kesunyian langit…
sambutlah pluit masinis dan lambaian tangan calon penumpang ;
mereka ada untuk kita, dan kita ada untuk mereka…begitu juga
kehidupan bebannya adalah ujian , rutenya adalah cita, relnya
adalah takdir.
Dan janganlah lupa dengan 0,1% yang bernama :
‘ Keajaiban kereta !’ ”…
“Yaitu rangkaian Batu ataupun bunga yang dilempar kekita ketika
kita sedang melintas !”
Wahai temanku sesama kereta, seantiasa tertawakanlah kepedihan
itu- jadikanlah dia ‘saudara kembar‘ kebahagiaan . Sambutlah
kedatangannya karena ia telah lama pergi merantau dan kini telah
kembali membawa karung-karung rindu.
Dia menunggu kita diujung stasiun, ayo kita jalan lagi
mengarungi penziarahan hidup !”.
‘Zes-zes …zes-zes…tutttttttttttt !..”
Lalu aku menengadahkan wajahku kematahari dan aku berteriak :
“inilah diriku !”
Hartono Beny Hidayat 1998
|