Sungai-sungai Airmata |
|
www.duniasastra.com Sungai-sungai
berairkan airmata mengalir deras diduniaku , serta memercikan darah-darah
tak berdosa pada diwajahnya, Kutatap
wajah bumi, dan kulihat kemunafikan
akan selalu menampakkan warna
aslinya,walaupun ujung-ujung jemarinya disapu warna pelangi, Perbudakkan
tetaplah perbudakkan dalam berbagai keragaman bentuknya,walaupun ia
menamakan dirinya kebebasan. Barat
tidak lebih tinggi dari Timur,Timur juga tak lebih tinggi dari Barat, Kudapati
peradaban yang dibangun ini peradaban tanpa jiwa, Makmur
akan materi namun masyarakatnya miskin
makanan jiwa, Aku
dapati masyarakatku hidup berbangsa-bangsa dan bersuku-suku,tapi
aku menemui diriku bagai orang asing ditengah komunitas mereka, aku
tidaklah menjadi warga negri manapun, Semesta adalah negriku dan umat
manusia adalah suku bangsaku. Jika
kehadiranku didunia membuatku harus membunuh sesama,maka kematian terasa
lebih manis untukku, Disini
aku hidup, dan tak seorangpun yang dapat mengusirku- dari tempat
tinggalku,dan aku akan tetap hidup- sekalipun didalam kematian. Aku
datang untuk hidup dalam keagungan cinta dan kasih sayang, kutitipkan
salam untukmu “kedamaian” walaupun engkau tenggelam dalam airmata
penindasan. Hartono Beny Hidayat, In Elaboration with KG 2001 |