|
www.duniasastra.com
Dikeheningan malam aku telah berjalan , menyusuri lorong-lorong kotorku dan
ruhku juga telah memasuki rumah-rumah kalian . Detak-detak jantung kalian
juga berdegup didadaku , dan nafas-nafasmu menghembus pula di hidungku.
Dan aku bukanlah seorang penyair aku hanya sekedar mengucapkan rangkaian
kata tentang sesuatu yang sebenarnya kalian sendiri telah tahu didasar alam
pikirmu.
Diantara kalian ada yang menyebutku angkuh , hanya mementingkan kegemaranku
menyepi dan mengatakan kepadaku : " Ia berbicara dengan tetumbuhan dan para
satwa ,bukan dengan kita manusia . Seorang diri ia duduk dipuncak-puncak
perbukitan memandang rendah pada kota dan kehidupan". Sebagian yang lain
diantara kalian berbicara kepadaku meski tanpa kata-kata : " Ia orang yang
aneh , orang ganjil , pencinta keluhuran yang tak teraih, untuk apa bermukim
dipuncak-puncak gunung tempat elang bersarang, dan mengapa pula mencari
sesuatu yang wujudnya belum pasti ?"..."Angin apa yang hendak kau tangkap
dalam jala-mu . Burung ajaib manakah yang ingin kau jaring dilangit biru
?!...Kemarilah engkau bersatu dengan kami , turunlah bersama kita akan
berbagi roti , dan lepaskan hausmu dengan anggur-anggurku !"
Memang aku telah mendaki "puncak-puncak perbukitan" dan sering pula aku
mengembara dalam "kesunyian " hutan.tapi aku juga akan tetap dapat mengamati
kalian tanpa perlu "turun" dari puncak pegunungan.
Kesunyian jiwa telah menyebabkan mereka melontarkan kata-kata itu, namun
apabila kesunyian itu mendalam lagi, maka mereka akan dapat mengerti, bahwa
apa yang aku cari adalah rahasia terdalam jiwa manusia ,dan yang aku buru
adalah sukma agung manusia yg menjelajah kesegala penjuru semesta.
Dan Kesunyian itulah yang menuntunku melangkah menuju "lorong penderitaan"
sekaligus teman keagungan spiritual.....
Aku orang yang percaya sekaligus peragu, betapa seringnya jariku menekan
lukaku sendiri sekedar untuk menghayati nilai kebenaran . Dan keyakinanku
berkata manusia itu tak terkurung dalam raga dan jasad yang merangkak
mencari kehangatan matahari, bukan pula penggali terowongan untuk mencari
perlindungan, melainkan ruh yang merdeka-jiwa yang meliputi cakrawala dunia
. Jika kata-kataku memasuki samar, kalian tak perlu gusar karena asal mula
segala sesuatu adalah samar , meskipun akan jelas pada akhirnya.
Sebab apakah pengetahuan itu jika bukan bayangan dan pengetahuan yang
terpendam bisu. Pikiran kalian dan jalinan kata-kataku, digetarkan oleh
gelombang yang satu ,terekam dan terpatri diantara hari-hari dan masa silam
yang telah berlalu , sejak bumi belum mengenal dirinya sendiri dan kegelapan
belum terkurung oleh pekatnya malam .
Pahamilah kata-kata orang bijak dan laksanakan dalam kehidupanmu sendiri .
Hidupkanlah kata-kata itu , tetapi jangan pernah memamerkan perbuatan -pebuatan
itu dengan menceritakannya, karena dia yang mengucapkan apa yang tidak dia
pahami , tidak lebih baik dari seekor keledai yg mengangkat buku-buku.
Jangan pernah menyesal karena kalian 'buta' dan jangan pernah merasa kecewa
karena kalian 'tuli', sebab dipagi ini fajar pemahamanmu telah merekah untuk
kalian didalam mencari rahasia kehidupan . Dan kalian akan mensyukuri segala
gulita- sebagaimana kalian mensyukuri terang cahaya.
Dan segala yang "tak berbentuk" selalu berusaha mencari "bentuknya", seperti
berjuta-juta bintang yang menjelma menjadi matahari...
Dan kulihat.......Kehidupan itu bersifat dalam , tinggi dan jauh , hanya
wawasan luas dan bebas yang dapat menyentuh kakinya , meski sebenarnya ia
dekat !.
Banyak sudah orang bijak yang telah mendatangi kalian untuk mengajarkan
hikmat dan pengetahuan . Dan aku datang untuk mengambil hikmat itu dan
lihatlah kutemukan sesuatu yang tak ternilai didasar hati, laksana air
pancuran yang melegakan jiwa.
Setiap kali aku datang ke air pancuran itu , dikala dahaga hendak membasahi
kerongkongan , aku dapatkan air itu sendiri tengah kehausan -dia meminumku
selagi aku meminumnya !
Hartono Beny Hidayat Elaboration with KG |